Site Loader

Hikmatiyani Nastiti

Ketua Yayasan Bening Indonesia

Self Talk Anti Baper

Hidup itu kadang indah_dan membuat hati berbunga. Namun kadang hidup itu terlihat kelabu_bahkan bisa membuat hati “renyek seperti bubuk rempeyek” . Ya itulah konsekuensi hidup. Penuh dengan gimik kehidupan. Mungkin dipengaruhi oleh bulan dan matahari. Bisa jadi karena hujan dan kemarau. Aih…

Salah satu alasan mengapa bahwa hidup itu kelabu adalah saat ada orang yang mengkritik kita_eh kita menurut saya ya. Hidup saya tuh dulu gitu. Iya dululah_masa lampau, past tense. Apa pasal bisa begitu? Apa hubungannya antara kritik dengan hidup kelam dan bikin hati renyek? Ya , karena saya memberikan makna bahwa orang itu salah menilai saya. Saya gak kek gitu. Titik. Jadi yang salah adalah “Dia” bukan saya. Hasilnya apa saat saya melekatkan makna itu? Wih, hati sempit banget. Kesel berhari-hari. Hubungan menjadi renggang, tidak percaya diri, dan sibuk memikirkan apa yang harus saya balas untuk kata-kata menyakitkan itu. Jelas dia sudah menyakiti saya. Gak ngaca apa? ..

Jadi, saat ada yang bilang “Mobil loe bagus, tapi yang keluar kek pembantu “, dalam hati saya langsung berbicara gini “Ehhh ente ngaca cobaa, muke loe aje mines, cakepan gw, gede gaya doang , tapi gak ngaca”_hihi nulis ini sambil ngakak inget masa lalu. Yah, alih-alih saya coba melakukan self talk yang memberdayakan, malah saya fokus pada orang yang menyampaikan. Dan saya? Tetep kek pembantu , karena setelah itu ada satu – dua orang lagi yang mengatakan gitu. hihihi…Gak pake bedak, penampilan seenaknya, males beli baju dengan alasan memang gak cukup uang. Tapi intinya gak ada usaha sama sekali untuk mengunyah kritikan itu. Yang ada saya lepeh.

Trus, dulu itu saya kesel banget kalau dibilang judes. Gak pernah senyum. Dan saya akan langsung mengatakan “Loe tuh baru kenal gw kan, jangan langsung menjudge lah”. Titik. Setelah itu mulailah menari-nari di kepala saya selftalk “Ni orang gak ngaca ye, kata-katanya yang nyakitin, malah gw yang dibilang judes. Gw akan senyum kalau ada yang kenallah…siapa elo sih”. ALhasil malaslah saya setiap ketemu orang yang mengatakan seperti itu.

Yah begitulah. Bahkan bisa jadi kita _atau tepatnya saya justru akan mencari pembenaran-pembenaran dengan bertanya kepada orang-orang yang saya anggap pro. Masalahnya sekarang saya baru mikir, lha gimana mereka mau jawab jujur, wong lihat muka saya aja udah takut..hahahaha. Atau anda pernah saat ditegur atasan akan kinerja yang buruk, ataupun sikap tak menyenangkan, dan malah menyalahkan atasan yang sentimen, gak suka sama kita, salah menilai dan sebagainya. Duh jadi inget atasan saya yang baik hati_Iis Istiqamah. Maafkeun mantan anak buahmu ini ya bu 😁😁😁

Dari itu semua, apa yang selanjutnya terjadi? Sampai di sini, saya lompat dulu pada hal lain. Akhir-akhir ini, saya membangun kebiasaan baru _ untuk mengejar takziah saat ada seseorang yang meninggal. Entahlah, mengapa nasihat ibu saya, baru saya lakukan sekarang. Dan walau saya tidak mengenal yang wafat, saya tetap akan hadir disana. Apalagi jika yang wafat adalah para pejuang dakwah.

Ada yang saya nikmati saat bertakziah. Melihat para keluarga dan kerabat hadir, menceritakan kisah baik seseorang yang wafat tersebut. Saya mengaminkan satu-satu pinta mereka semoga kebaikan-kebaikan almarhum diterima oleh Allah. Bukan kebaikan harta yang yang paling banyak saya tangkap. Namun kesantunan, keramahan, sikap menolong dan sebagainya. Bayangkan, kebaikan ini semua ternyata untuk diri sendiri. bukan orang lain. Mengingat nasihat dari Ust. Abdul Somad, bahwa inti dari takziyah adalah bagaimana kita bisa melihat posisi diri kita saat ini. Apa sih yang ingin kita tuju? Lalu dimana posisi kita saat ini? Ingatlah, ujung dari akhir itu ada di lubang sedalam 2 meter saja. Lalu apa yang kita butuhkan disana selain doa-doa terbaik dari keluarga dan sahabat.

So guys, kritik ini adalah tentang bagaimana kita bisa mengunyah-ngunyah dulu kata-kata yang datang dari luar. Tidak semuanya benar namun juga tidak semuanya salah. Kita hanya butuh waktu untuk merasakan, merubah posisi kita menjadi orang lain yang rasakan. Sekali lagi, tidak semuanya benar tentang diri kita. Namun kadang, justru kebenaran yang kita pegang erat menjadi salah di mata orang lain saat kita kurang tepat membungkusnya dengan baik dan menarik.

Selftalk yang tidak memberdayakan ternyata justru membuat kita tidak lebih maju. Membuat kita hanya jalan di tempat dan sibuk mencari dukungan . Jika sudah begini, ya kembali kepada kita. Coba renungkan_Kenangan seperti apa sih yang ingin dibangun oleh orang-orang tercinta terhadap kita saat nanti kita pergi.

Yuk jadikan kritikan itu cermin.
Yuk bersihkan jendela hati kita
Yuk jujur terhadap diri.
Agar baper tidak berlanjut saat kritik menerpa…

SHARE

Hikmatiyani Nastiti

Ketua Yayasan Bening Indonesia

Post Author: Bening Indonesia Foundation

Leave a Reply

Your email address will not be published.