Site Loader

Kisah Nabi Yusuf AS beserta Para Kakak

Ditulis oleh : Hikmatiyani Nastiti

Kembali diawali kisah dalam Al Quran, surat Yusuf: 4 , saat Nabi Yusuf AS menceritakan mimpi kepada ayahnya.  Sang ayah meminta untuk tidak menceritakan mimpi tersebut kepada para kakak. Nabi Yaqub AS pun tidak menjelaskan detail arti mimpi tersebut walau Yaqub adalah seseorang yang dapat mentafsirkan mimpi seperti ayahnya, nabi Ibrahim AS.

Hikmah pertama dari tafsir ayat tersebut adalah sukseskanlah keinginan – keinginan kita dengan cara menyembunyikannya. Karena pada setiap nikmat pasti akan ada orang-orang yang hasad. Hal ini pula yang dilakukan oleh Nabi Zakaria saat di usianya yang senja, beliau masih berdoa untuk diberikan keturunan. Seandainya Zakaria membeberkan keinginanya, bisa jadi akan banyak cemohan dan kecaman sehingga dapat menyurutkan keinginannya memiliki anak. Lalu Rasulullah pun menganjurkan saat kita bermimpi baik, ceritakanah hanya kepada orang-orang yang mencintaimu dan kamu mencintainya. Agar mereka dapat turut mendoakanmu. Masya Allah..

Betapa banyaknya kekeliruan dari cara kita menonjolkan harapan dan kebahagiaan dengan membeberkannya  ke banyak media sosial. Dan ternyata kenikmatan yang kita raih bisa jadi menimbulkan penyakit ‘ain juga hasad dari orang lain.

Hikmah kedua, saat saudaranya mulai menjalankan niat buruknya di dengan menjebloskan Yusuf ke dalam sumur,  Nabi Yusuf mendapatkan ilham dari Allah bahwa beliau tetap akan  diberikan keselamatan oleh Allah (QS 12 : 15). Hal ini menunjukkan saat kita istiqamah di jalan Allah, maka Allah akan terus melindungi kita. Maka, tanamkanlah kepada anak-anak untuk selalu  menjaga Allah di dalam jiwa. Betapa banyak keburukan yang terjadi di sekililing kita atau bahkan menimpa diri. Namun perlu kita sadarkan kepada anak-anak bahwa keburukan yang menimpa dirinya,  justru dapat menjadi wasilah mereka untuk menjadi lebih dekat pada Allah. Ketika kita semakin dekat dengan Allah, maka Allah akan menjaga kita.

Bukankah Allah juga mengingatkan kita dalam surat An-Naas untuk berlindung dari keburukan yang lahir dari internal diri? Pun Allah jelaskan di dalam surat Al-Falaq bagaimana kita berlindung dari keburukan yang datang dari eksternal diri? Berlindung dari keburukan eksternal; kejahatan makhluknya, kejahatan gelapnya malam, kejahatan tukang tenung serta keburukan dari kedengkian orang yang dengki. Maka berdoalah agar dalam menghadapi semua masalah kehidupan, janganlah kita dibiarkan seorang diri tanpa ada Allah yang terlibat dalam sekejap mata.

Hikmah ketiga,  kedengkian itu bisa memutuskan silaturrahim. Masalahnya syaitan tak ingin hanya sebatas pada hasud. Setan ingin memunculkan penyakit lebih tinggi yaitu Hajr, memutuskan hubungan silaturrahim. Salah satu amal kita ditolak karena kita “menghajr” saudara kita. Setiap Senin dan Kamis, amal kita diterima oleh Allah dan dosa-dosa kan diampuni dengan syarat terhindar dari 2 keburukan yaitu selama dia tidak berbuat syirik dan tidak mendengki atau  sedang bermusuhan dengan saudaranya.

Silaturrahim yang paling harus dijaga adalah dengan saudara senasab dan dengan orang-orang yang beriman, yang disebut ukhuwah. Silaturahim bisa rusak hanya dengan kedengkian. Putusnya silaturahim berawal dari kedengkian. Kan banyak keburukan dari dengki seperti ghibah, memfitnah, namimah dsb.

Salah satu sebab seseorang jauh dari hidayah juga karena hasud. Kedengkian menyebabkan kebaikan menjadi keburukan (QS 59 : 10 ).

Mengapa kita perlu berdoa agar tidak ada kedengkian terhadap orang beriman? Karena sesungguhnya kedengkian itu merusak pahala-pahala amal. Bagai api yang membakar kayu hingga hangus. Sebagus apapun itu amal kita, dengki tetap akan merusak.

Hikmah keempat,  saat saudara-saudara membawa baju Yusuf yang berlumuran darah, ternyata Nabi Yaqub melihat baju yang dibawa mreka tidaklah koyak. Hal ini menunjukkan betapa sehebat kejahatan apapun dikemas, akan ada celah kekurangannya. Yakinlah setiap niat jahat, keburukan pasti akan tersimpan celah keburukan. Karena itu datangnya dari syaitan, maka pasti akan ada kelemahannya. Sampaikan kepada anak-anak kita, jadilah manusia yang jujur. Sesuatu yang ditutupi bahkan khusus merancang sebuah kejahatan terhadap orang lain, Allah sangat mudah menampakan kekurangan dari rencana jahat tersebut.

Hikmah kelima,  Ketika Nabi Yusuf sudah menjadi penguasa, datanglah  kesepuluh saudaranya. Yusuf bisa mengenali saudara-saudaranya. Dan ternyata, tidaklah Nabi Yusuf membalas dendamnya pada mereka. Orang yang hebat bukanlah orang yang memiliki keinginan membalas kejahatan. Tidak ada kedengkian pada saudaranya . Anak-anak kita perlu dipahamkan tentang sifat pendendam ini. Pasti akan banyak terjadi perkelahian-perkelahian , perdebatan, kesalahpahaman antara saudara. Namun cukuplah hingga mereka bisa saling memaafkan dan tidak membalas keburukan saudara lainnya di saat mereka mampu melakukannya. Masya Allah.

Betapa sebuah kesabaran itu akan membuahkan hasil dan kebaikan luar biasa. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

#PojokBerkisah

#KajianRamadhan2

SHARE

Post Author: Bening Indonesia Foundation

Leave a Reply

Your email address will not be published.