Site Loader
visit my channel youtube sekolah bening indonesia

Hikmatiyani Nastiti

Peran Ayah dalam Kisah Nabi Yusuf AS

Sungguh, saat belajar dari berbagai guru tentang kisah Nabi Yusuf AS, ada beberapa hal yang sekali lagi menguatkan pemahaman tentang pentingnya peran ayah di dalam keluarga.

Kisah ini dimulai saat Nabi Yusuf AS menceritakan mimpinya kepada sang ayah, Nabi Yaqub AS. Seorang anak lelaki usia baligh yang ternyata mau menceritakan mimpi kepada sang ayah. Bukankah itu menunjukkan kelekatan hubungan antara ayah dan anak lelakinya? Hal tersebut menunjukkan kekuatan relasi antara ayah dan anak aqil balighnya.

Jika anda seorang ayah, apa yang anda rasakan saat anak anda mau bercerita kepada anda? Tentang mimpi, cita-cita, hal-hal yang ditemui di perjalanan hidupnya, juga tentang teman-temannya. Tentu menjadi hal yang amat istimewa saat anda memiliki itu semua. Anda bagai menjadi sahabat terpercaya anak, yang dengan hal itulah anda dapat memasukan nilai-nilai Islam serta pandangan hidup kepada anak anda.

Maka tugas terpenting ayah untuk membangun kelekatan dalam istilah NLP, disebut membangun rappor.  Tujuannya apa? Mendapatkan kepercayaan. Agar saat anak sudah percaya terhadap anda, maka ia akan mudah diarahkan oleh orang tua. Bagaimana cara anda membangun kelekatan dengan anak? Memiliki integritas jelasnya. Selaras antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan. Orang tua yang sholeh, paham akan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Quran dan bagaimana mengamalkan.

Kembali pada kisah Nabi Yusuf AS, saat Yusuf menceritakan mimpinya kepada Nabi Yaqub, maka apa responnya?

“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya:

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku” ( QS. Yusuf : 4)

Ayahnya berkata:

“Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia” (QS Yusuf : 5)

Sang ayah, Nabi Yaqub AS, meminta Yusuf AS untuk tidak menceritakan kepada para kakaknya tentang mimpi tersebut. Nabi Yaqub  paham akan tafsir mimpi tersebut, bahwa kelak Yusuf akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dan dihormati.

Hikmah apa yang bisa kita ambil?

Pertama, bahwa Nabi Yaqub menyayangi semua anak-anaknya . Ini ditunjukkan pula betapa Nabi Yaqub itu paham terhadap sifat dan perilaku setiap anak-anaknya. Bahkan walau Yaqub tahu tentang tabiat para kakak Yusuf AS, yang diingatkan oleh Nabi Yaqub adalah syaitan yang membuat seseorang untuk menjadi tidak baik dan bukan menyerang pada pribadi anak-anaknya. Setanlah yang membuat kelakuan seseorang menjadi buruk. Yaqub menjelaskan dengan tegas siapa musuh manusia sesungguhnya. Bisikan syetanlah yang membuat manusia berbuat buruk. Dan ini berarti bahwa Nabi Yaqub pun masih memiliki harapan agar anak-anaknya yang lain dapat kembali pada kebaikan.

Kedua, Nabi Yaqub paham kecenderungan dan potensi anak-anaknya. Lalu bagaimana dengan para ayah saat ini? Semoga dapat belajar dari seorang Nabi Yaqub AS, yang paham akan sifat-sifat serta potensi anak-anaknya.

Bagaimana bisa seorang ayah melakukan ini semua? Tentu saat ayah paham akan tugasnya dalam mendidik anak bukanlah hanya tugas memenuhi kebutuhan fisik semata. Namun tugas utama adalah menyelamatkan akidah anak sampai akhirat nanti. Ini adalah puncak kesuksesan orang tua dalam mendidik anak.

Saat ayah memprioritaskan waktunya untuk tugas mendidik , ia akan dapat menangkap gejala-gejala yang baik ataupun menyimpang dari anak. Ayah menyiapkan hati, telinga dan mata  saat berkomunikasi dengan anak.  Ayah dapat memberikan dorongan-dorongan kebaikan kepada anak-anak, berusaha pula untuk menumbuhkan potensi-potensi kebaikan anak.

Ketiga, pesan terbaik ayah salah satunya mengingatkan agar anak-anaknya haruslah kuat dalam menghadapi godaan dari syaitan.  Terlalu mencintai dunia, jauh dari rasa bersyukur, dengki, tidak dapat menahan hawa nafsu adalah langkah-langkah syaitan untuk menjauhkan manusia dari Allah.

Ketiga, pesan terbaik ayah salah satunya mengingatkan agar anak-anaknya haruslah kuat dalam menghadapi godaan dari syaitan.  Terlalu mencintai dunia, jauh dari rasa bersyukur, dengki, tidak dapat menahan hawa nafsu adalah langkah-langkah syaitan untuk menjauhkan manusia dari Allah.

Share

Penulis

Hikmatiyani Nastiti

Ketua Yayasan Bening Indonesia

Kategori